Sebuah Nama Menuju Segenap Harapan

MediaMuslim.Info Barangkali jauh hari sebelum si kecil lahir ke dunia, tak kurang banyaknya nama yang dirancang oleh ayah dan ibu dengan dilatari oleh berbagai pertimbangan. Ada yang ingin menamai anaknya dengan nama tokoh yang dikagumi disertai harapan, anaknya sehebat tokoh tersebut. Ada pula yang sekedar mempertimbangkan faktor “keren dan enak didengar”.

Memberikan nama yang baik dan indah serta sesuai dengan tuntunan Islam adalah salah satu tugas orang tua bagi anaknya yang baru lahir, nama tersebut akan menjadi sebuah identitas dan menggambarkan sebuah harapan terhadapnya. Ada aturan-aturan dalam syariat Islam yang harus diikuti orang tua agar nama anak bisa memberikan kebaikan dan berkah bagi pemiliknya. Dengan demikian, sudah semestinya bagi ayah bunda memberikan nama yang terbaik bagi anaknya, nama yang dicintai oleh Robb semesta alam. Tidak ada jalan lain untuk mendapatkannya, kecuali menelaah kembali, bagaimana Alloh ‘Azza wa Jalla dan Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam menerangkan seputar seluk beluk nama kepada kita.

Pada hari pertama hadirnya buah hati di dunia, sang ayah boleh memberikan nama padanya. Kita bisa menyimak kisah pemberian nama Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam pada putranya, Ibrahim. “Semalam telah lahir anak laki-lakiku, maka aku beri nama dia dengan nama ayahku, Ibrahim” (Shahih, HR. Muslim no. 2315)

Al-Imam An Nawawi rohimallahu menjelaskan bahwa kisah ini menunjukkan bolehnya memberikan nama anak pada hari kelahirannya. (Syarh Shahih Muslim, 15/75)

Dalam hal ini masih terdapat kisah-kisah lainnya seperti ketika para sahabat membawa anaknya yang baru lahir ke hadapan Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam, beliau memberikan nama pada hari itu juga. Kita lihat dalam kisah kelahiran ‘Abdullah bin Az Zubair rodhiyallahu anhu ketika Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam men-tahnik-nya: “Kemudian beliau mengusapnya dan mendoakan kebaikan baginya, serta memberinya nama ‘Abdullah” (Shahih, HR. Muslim no. 2146)

Demikian pula dala kisah lahirnya ‘Abdullah bin Abi Thalhah rodhiyallahu anhu, ketika Anas bin Malik rodhiyallahu anhu membawanya ke hadapan beliau: “Kemudian beliau mentahniknya dan memberinya nama ‘Abdullah” (Shahih, HR. Muslim no. 2144)

Juga ketika Abu Usaid rodhiyallahu anhu membawa putranya kepada Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam pada hari kelahirannya: “Maka pada hari beliau memberinya nama AlMundzir” (Shahih, HR. Al Bukhari no. 6191 dan Muslim no. 2149)

Begitu pula penuturan Abu Musa Al Asy’ari rodhiyallahu anhu: “Telah lahir anak laki-lakiku, lalu aku membawanya kepada Nabi shalallahu ‘alahi wa sallam, maka beliau memberinya nama Ibrahim dan mentahniknya dengan kurma” (HR. Muslim no. 2145)

Pemberian Nama Pada Hari Ke Tujuh ?
Sebagian dari masyarakat mungkin pernah mendengar dan mengamalkan mengenai pemberian nama pada hari ke tujuh setelah kelahiran. Bagaimana dengan hal ini ?. Sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam melalui lisannya yang mulia, yang artinya “Setiap anak tergadai aqiqahnya, maka pada hari ke tujuh disembelih hewan, dicukur rambutnya dan diberi nama” (HR. Abu Dawud no. 2838)

Untuk memahami dua sisi ini, mari kita simak penjelasan Al Hafidz Ibnu Hajar Al ‘Asqolani rohimallahu, beliau mengatakan bahwa anak yang tak hendak di aqiqahi, maka pemberian namanya tidak ditangguhkan hingga hari ketujuh, sebagaimana yang terjadi dalam kisah Ibrahim bin Abi Musa, Abdullah bi Abi Thalhah, demikian pula Ibrahim putra Nabi shalallahu ‘alahi wa sallam dan ‘Abdullah bin Az Zubair, karena tidak ada penukilan yang menyatakan bahwa salah seorang diantara mereka di aqiqahi. Sedangkan anak yang hendak di aqiqahi, maka pemberian namanya ditangguhkan hingga hari ketujuh sebagaimana yang ada dalam hadits-hadits lain. (Fathul Bari, 9/501)

Memilih Nama Dalam Tinjuan Islam
Tentunya setiap orang tua yang baik ingin memberikan nama terbaik bagi buah hatinya. Namun semua itu tetap tidak bisa lepas dari tinjauan syariat, ketika Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam telah memberikan tuntunannya.

Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam pernah bersabda, yang artinya: “Sesungguhnya nama yang paling dicintai oleh Allah adalah ‘Abdullah dan ‘Abdurrahman” (HR. Muslim no 2132). Ucapan beliau ini menunjukkan keutamaan kedua nama tersebut atas seluruh nama, demikian dijelaskan oleh Al Imam An Nawawi (Syarh Shahih Muslim, 14/113)

Ayah dan ibu pun bias memilihkan nama dari deretan nama-nama para Nabi Allah, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam untuk putranya dan diikuti oleh para sahabatnya kepada anak-anak mereka. Beliau berikan nama Ibrahim kepada anak Abu Musa Al-Asy’ari, dan Yusuf kepada anak ‘Abdullah bin Salman, sebagaimana dikisahkan sendiri oleh Yusuf bin ‘Abdillah bin Salam: “Rasulullah memberiku nama Yusuf dan mendudukkan aku di pangkuan beliau serta mengusap kepalaku” (HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, dikatakan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Shahih Al Adabul Mufrad no. 282 bahwa isnadnya shahih)

Nama-Nama Yang Haram
Perlu kita ketahui dan amalkan bahwa terdapat nama-nama yang haram untuk disandang. Kita bias melihat penjelasan Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam mengenai hal ini: “Sesungguhnya nama yang paling hina di sisi Allah adalah seseorang yang bernama Malikul Amlak (raja dari seluruh raja)” Ibnu Abi Syaibah menambahkan dalam riwayatnya: “Tidak ada raja kecuali Alloh ‘Azza wa Jalla” Al Asy’atsi berkata bahwa Sufyan mengatakan: “Seperti Syahan Syah” (HR. Al Bukhari no. 6206 dan Muslim no. 2143)

Kita simak ucapan Al Imam An Nawawi rohimallahu ketika menjelaskan hadits ini. Beliau mengatakan pemakaian nama ini haram, demikian pula memakai nama-nama Alloh ‘Azza wa Jalla yang khusus bagi diri-Nya seperti Al Quddus (Yang Maha Suci), Al Muhaimin (Yang Maha Memelihara), Khaliqul Khalq (Pencipta Seluruh Makhluk), dan sebagainya. (Syarh Shahih Muslim, 14/122)

Penamaan yang terlarang ini tidak hanya mencakup lafadz bahasa Arab, namun lafadz dalam bahasa lain apabila maknanya demikian pun terlarang. Kita lihat dalam hadits di atas, Sufyan bin ‘Uyainah rohimallahu memasukkan nama Syahan Syah – yang bukan berasal dari lafadz bahasa Arab namun bermakna serupa dengan Malikul Amlak – dalam larangan ini. Hal ini dijelaskan oleh Al Imam Al Mubarakfuri. Beliau menyatakan bahwa Sufyan bin ‘Uyainah Memberikan peringatan bahwa nama yang tercela ini tidak terbatas pada Malikul Amlak saja. Akan tetapi, seluruh nama yang menunjukkan makna tersebut dengan bahasa apapun termasuk dalam larangan ini. (Tuhfatul Ahwadzi, 8/102)

Begitu pula nama-nama yang mengandung tazkiyah (nama yang mengandung pensucian) ataupun nama-nama yang buruk, sehingga didapati kisah-kisah Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam mengganti nama-nama itu dengan nama-nama yang lebih baik. Inilah penuturan ‘Abdullah bin ‘Umar, mengungkapkan apa yang dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam, yang artinya: “Anak perempuan ‘Umar bin Al Khaththab bernama ‘Ashiyah (wanita yang suka bermaksiat), maka Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam memberinya nama jamilah (wanita yang cantik)”

Ibnu Atsir rohimallahu mengatakan dalam penjelasan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam mengganti nama ‘Ashiyah tersebut karena syi’ar seseorang yang beriman adalah taat kepada Allah, sementara kemaksiatan adalah lawan dari ketaatan (‘Aunul Ma’bud)

Selain itu, ada pula putrid Abu Salamah yang semula bernama Barrah (Wanita yang suci) kemudian diganti oleh Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam dengan nama zainab. Dia Mengisahkan sendiri peristiwa ini: “Dulu aku bernama Barrah, kemudian Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam memberiku nama Zainab” (Shahih, HR. Muslim no. 2142)

Bahkan kedua istri beliau, Zainab bintu Jahsy dan Juwairiyah bintu Al-Harits rodhiyallahu anhuma, semula bernama Barrah, kemudian beliau mengganti nama mereka berdua. (Shahih, HR. Muslim no. 2140 dan 2141)

Al Imam An Nawawi rohimallahu memberikan penjelasan bahwa hadits-hadits di atas mengandung makna penggantian nama yang jelek atau nama yang dibenci menjadi nama yang baik. Terdapat juga hadits-hadits yang menerangkan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam mengganti banyak nama sahabat. Beliau menjelaskan bahwa alas an penggantian nama ini ada dua, yaitu karena mengandung tazkiyah (pensucian diri) atau dikhawatirkan terjatuh pada tathayyur (anggapan untung atau sial karena adanya suatu tanda, misalnya burung, hari, bulan, dll). (Syarh Shahih Muslim, 14/120-121)

Kita lihat dalam kisah Ibnu ‘Umar rodhiyallahu anhu diatas, Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam tidak mengganti nama putri ‘Umar bi Al Kaththab rodhiyallahu anhu menjadi Muthi’ah (wanita yang taat), padahal lawan kata dari ’Ashiyah adalah Muthi’ah. Hal ini disebabkan karena ditakutkan nama itu mengandung tazkiyah. (Aunul Ma’bud, 13/201)

Ada satu hal yang perlu diketahui, dalam Islam disyariatkan memanggil seseorang dengan nama kunyah (Nama yang menggunakan Abu atau Ummu, biasanya diambil dari nama anak pertama atau anak laki-laki pertama. Atau yang diawali Ibnu atau Bintu. Hal ini biasanya sebatas nama panggilan, bukan nama di akte kelahiran) walaupun orang itu belum memiliki anak. Demikian pula yang dilakukan oleh Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam kepada seorang anak kecil, seperti yang kita dengar dari penuturan Anas bin Malik rodhiyallahu anhu: “Rasullah shalallahu ‘alahi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya, dan aku mempunyai saudara laki-laki yang telah disapih yang dipanggil Abu ‘Umair! Apa yang dilakukan burung kecilmu? Dia biasa bermain-main dengan burung kecil itu” (Shahih, HR. Muslim no. 2150)

Perbuatan Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam ini menunjukkan bolehnya memberikan nama kunyah kepada seseorang yang belum memiliki anak atau kepada anak-anak, dan ini bukan termasuk dusta. (Syarh Shahih Muslim, 14/129)

InsyaAllah tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alahi wa sallam ini dilaksanakan oleh segenap orang tua dari kalangan kaum muslim yang ingin memberikan seluruh kebaikan bagi putra-putrinya yang mengemban segenap harapan mereka. Memang pada dasarnya materi pada tulisan kali ini belum terlalu aplikatif, namun semoga bias menjadi pegangan bagi kita untuk lebih berhati-hati dan mencari rujukan mengenai nama-nama yang akan kita berikan kepada si buah hati tercinta. Wallahu ta’ala a’lamu bish-shawab. (Ibnu Yunus Al Andalasy)

(Sumber Rujukan: Syarh Shahih Muslim, Mukhtasor Shahih Bukhori, Shahih Al Adabul Mufrod, Aunul Ma’bud, Fathul Bari)

1 Response so far »

  1. 1

    camagenta said,

    sukron, artikel ini udah memberikan gambaran kepada ana tentang nama kunyah🙂


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: