Kejadian-Kejadian yang Menimpa Seseorang

MediaMuslim.InfoSebagaimana kejadian-kejadian yang menimpa umat dapat menjadi salah satu faktor tingginya kemauan, maka demikian pula individu apabila ia mengalami kejadian-kejadian yang tidak menyenangkan dalam kehidupannya, seperti ujian, bencana dan lain sebagainya. Semua itu dapat berpengaruh dan dapat meninggalkan pengaruhnya dalam jiwanya, bahkan adakalanya menjadi faktor kebangkitan dan keberanjakannya.

Inilah yang dialami Umru’ Al-Qais. Saat ayahnya masih hidup, ia adalah seorang pemuda yang lalai, suka bersenang-senang yang tidak ada manfaatnya, kesenangannya mengejar-ngejar wanita dan meminum minuman keras (khamr); karena ia menikmati kehidupan yang menyenangkan di bawah kekuasaan ayahnya.Ketika ayahnya terbunuh, dan kekuasaan yang dimilikinya juga hilang, maka kejadian itu berpengaruh sangat besar kepadanya. Maka bangkitlah ia dari tidurnya, bangkit dari kesantaiannya, meninggalkan minum khamr, dan mulai berusaha untuk mengembalikan kekuasaan ayahnya. Setelah ia sebelumnya mengucapkan:

Kami mempunyai kambing banyak yang kami giring
Seakan-akan tandan korma diambil dengan tongkat
Ia memenuhi rumah kami dengan daging dan samin
Cukuplah bagimu rasa kenyang dan puas dari dahag

Kini ia mengucapkan, “Tidak ada kegembiraan hari ini, tidak ada bermabuk-mabukan hari ini. Hari ini khamr, dan besok adalah lain hal.” Ia bersumpah pada dirinya untuk tidak makan daging, tidak minum khamr, tidak meminyaki kepalanya dengan minyak, tidak bersetubuh dengan wanita, dan tidak mencuci kepalanya hingga dapat membunuh seratus orang dari kabilah Bani Asad dan memenggal seratus kepala, sebagai balas dendam atas kematian ayahnya.

Dan ia setelah itu berkata: “Seandainya saya hanya berusaha mencari kehidupan yang paling rendah tentu cukup bagiku dan tidak saya cari sedikit harta. Namun aku berusaha mengejar kebesaran dan orang sepertiku bisa jadi mendapatkan kebesaran.

Adapun kondisi kita sekarang adalah sangat lemah lagi terhina, hancur lebur oleh bencana baik dalam masalah agama maupun dunia. Semua itu telah mengharuskan kita untuk bangun dari kelalaian dan tidur kita. Kita instopeksi diri kita kesalahan dan dosa-dosa apa yang telah kita lakukan sehingga Alloh menurunkan musibah yang bertubi-tubi. Kemudian kita bangkit sebagaimana Umru’ Ak Qois bangun dari kelalaian, bedanya kita dengan Umru’ Al Qais, dia merusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan dunia berupa kekuasaan, sedangkan kita berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan akherat sedangkan dunia adalah ikutan dan merupakan karunia Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.

(Sumber Rujukan: Diwan Umru’ul Qais dan Al-Himmah Al-‘Aliyah Mu’awwiqatuha wa Muqawwimatuha karya Muhammad bin Ibrahim Al-Hamd)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: