Pernikahan Rasululloh Dengan Khodijah dan Usia Khodijah

Lima tahun berselang dari hiful fudhul tepatnya ketika beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam berusia 25 tahun, beliau menikahi Khodijah bintu Khuwalid seorang janda terhormat, mulia dan kaya raya. Khodijah sebelum menikah dengan Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam pernah menikah dengan dua orang. Pertama dengan ‘Atieq bin Aa’idz Al Makhzumi dan melahirkan seorang putri setelah itu ia menikah dengan Abu Halah Hindun bin Al Nabasy At Tamimidan melahirkan seorang putra, lalu Abu Halah meninggal pada masa jahiliyah.

Pernikahan beliau dengan Khodijah merupakan perkara yang pasti dan disepakati oleh kaum muslimin dengan dasar pernyataan Aisyah, yang artinya: “Nabi tidak menikahi wanita lain atas Khodijah sampai Khodijah wafat” (HR: Muslim). Imam Ibnu Hajar menyatakan, ini termasuk yang disepakati para ulama sejarah.

Demikian juga pujian dan keutamaan Khodijah yang banyak disampaikan Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam adalah bukti nyata bahwa Khodijah adalah salah satu isti beliau, bahkan ia adalah istri pertama beliau. Namun riwayat-riwayat yang memerinci proses perkenalan dan usaha perdagangan beliau mengelola dagangan Khodijah sampai pernikahannya seluruhnya riwayat yang lemah walaupun sangat terkenal.

Riwayat-riwayat yang lemah tersebut menjelaskan awal perkenalan keduanya melalui peristiwa Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam bekerja mengelola perdagangan Khodijah yang memiliki investasi modal yang besar. Beliau membawa dagangannya dua kali ke kota Jursy –dekat kota Khomeis Masyieth- Yaman, pernah ke Hubasyah pasar negeri Tuhamah dan Syam. Beliau berangkat bersama budak laki-laki Khodijah yang bernama Maisarah dalam perdagangan tersebut, kemudian Maisarah menceritakan apa yang dilihatnya dari ketinggian dan kemulian Akhlaq Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Penuturan Maisarah tersebut membuat kagum Khodijah, kemudian Khodijah menyampaikan niatnya untuk meminta beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadi suaminya. Lalu Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam bermusyawarah dengan para pamannya dan merekapun menyetujuinya. Kemudian beliau Shalallahu ‘alaihi wa sallam berangkat bersama Hamzah bin Abdil Mutholib meminang Khodijah kepada orang tuanya. Beliau menikahi Khodijah dengan mahar 20 ekor anak onta.

Para Ulama berselisih siapakah wali dalam pernikahan tersebut. Ibnu Ishaq menyatakan bahwa yang menikahkannya adalah Khuwalid bin Asad (Bapak Khodijah), sedangkan yang lainnya menyatakan yang menjadi walinya adalah pamannya yang bernama Amru bin Asad dan ada yang menyatakan saudaranya yang bernama Amru bin Khuwalid. Namun yang rojih (kuat) InsyaAlloh adalah bapaknya sendiri yang menikahkannya (dirojihkan oleh Imam Ibnu Hajar, Dr Akrom Dhiya’ Al Umari, Dr. Mahdi Rizqullah dll.)

Demikian juga dengan usia Khodijah ketika menikah dengan Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam. Al Waqidi (para ulama menyatakan Al Waqidi dengan perkataan Matruk atau perawi yang lemah sekali) menyatakan umur Khodijah kala itu adalah 40 tahun dan inilah yang terkenal secara umum. Namun Ibnu Ishaq (seorang shoduq dan perawi hadits hasan) menyatakan usia Khodijah pada waktu itu adalah 28 tahun. Memang tidak terdapat satu riwayatpun yang shohih mengenai usia Khodijah ketika menikah dengan Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam, Namun melihat anak-anak Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam yang berjumlah 6 orang, semuanya dilahirkan sebelum kenabian kecuali Abdulloh, tampaknya pendapat Ibnu Ishaq lebih kuat dari pada Al Waqidi, karena umumnya wanita pada usia diatas 40 tahun sudah mendekati masa menapous (berhenti haidhnya).

Beliau menikah dan tinggal menetap di rumah Khodijah dan memperoleh anugrah 6 orang anak, lima orang anak Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam lahir sebelum kenabian dan satu setelah kenabian. Mereka adalah Al Qasim (meninggal sewaktu masih kecil), Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah, Abdulloh (di panggil juga dengan panggilan Al Thohir atau Al Thoyyib).

Seluruh anak laki-laki Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam meninggal dunia ketika masih kecil, sedangkan puteri-puteri beliau berumur panjang dan mendapati masa kenabian serta masuk Islam dan berhijroh bersama beliau ke kota Madinah.

Demikianlah Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam dan Khodijah membina rumah tangga di rumah tersebut dan Khodijah meninggal di rumah itu juga serta Rosululloh Shalallahu ‘alaihi wa sallam masih tetap menghuni rumah tersebut setelah meninggalnya Khodijah sampai berhijroh ke kota Madinah.

(Sumber Rujukan: Al Siroh Al Shohihah Karya Dr. Akrom Dhiya’ Al Umari dan berbagai sumber)

 Sumber: www.mediamuslim.info

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: