Bersikap Bijak terhadap Bahan Tambahan Pangan (BTP)

Pemberitaan tentang Bahan Tambahan Pangan (BTP) tidak pernah putus, muncul secara tiba-tiba, tetapi kemudian tenggelam kembali tanpa solusi yang tuntas. Penyelesaiannya pun sepertinya turut tenggelam juga seiring dengan menghilangnya pemberitaan di media-media. Keadaan ini tentunya tidak bisa dibiarkan, karena banyak pihak -baik produsen maupun konsumen- bisa terkena dampak negatifnya. Selain itu, ini juga akan mempengaruhi citra produk makanan Indonesia di dunia internasional, terutama di negara-negara tujuan ekspor. Keadaan ini mendorong diperlukannya suatu ketegasan dalam pengaturan BTP dan pengawasan yang baik.

Pemberitaan yang muncul terkadang dengan berbagai tujuan. Jika tujuan itu untuk memberikan informasi yang benar, memberikan pelajaran yang positif kepada konsumen maupun produsen, tentunya yang sangat diharapkan. Tetapi, seringkali ada tujuan negatif seperti alasan politis, persaingan usaha dan tujuan lainnya. Sebagai akibatnya, informasi itu malah akan membuat konsumen ketakutan dan produsen kelabakan. Yang lebih parah lagi adalah jika ada pemberitaan negatif di dunia maya (Internet), yang bebas dan cepat menyebar. Pemberitaan seperti inilah yang perlu diluruskan dengan berita-berita yang bisa mengimbangi dalam hal kegunaan dan resiko penggunaan BTP.

Apakah BTP?

BTP adalah bahan atau `campuran bahan` yang secara alami bukan merupakan bagian dari bahan baku pangan, tetapi lebih kepada sesuatu yang ditambahkan ke dalam pangan untuk mempengaruhi sifat atau bentuk pangan, antara lain bahan pewarna, pengawet, penyedap rasa, anti gumpal, pemucat dan pengental.

Di dalam Peraturan Menteri Kesehatan RI No.722/Menkes/Per/IX/88 dijelaskan bahwa BTP adalah bahan yang biasanya tidak digunakan sebagai makanan dan biasanya bukan merupakan ingredient khas makanan, mempunyai atau tidak mempunyai nilai gizi, yang dengan sengaja ditambahkan ke dalam makanan untuk maksud teknologi pada pembuatan, pengolahan, penyiapan, perlakuan, pengepakan, pengemasan, penyimpanan atau pengangkutan makanan untuk menghasilkan suatu komponen atau mempengaruhi sifat khas makanan tersebut.

Apa saja yang termasuk BTP?

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI No. 722/Menkes/Per/IX/88, BTP yang diizinkan digunakan pada makanan adalah : (1) pewarna, (2) pemanis buatan, (3) pengawet, (4) antioksidan, (5) antikempal, (6) penyedap rasa dan aroma, penguat rasa, (7) pengatur keasaman, (8) pemutih dan pematang tepung, (9) pengemulsi, pemantap dan pengental, (10) pengeras dan (11) sekuesteran (pengikat ion logam). Selain BTP yang tercantum dalam Peraturan Menteri tersebut, masih ada BTP lainnya yang biasa digunakan dalam makanan, misalnya : (1) enzim, (2) penambah gizi dan (3) humektan (penyerap lembab).

Kegunaan BTP

Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi di dunia pangan, penggunaan BTP bisa menjadi salah satu pilihan bagi industri pangan dalam pengembangan produknya. Penggunaan BTP di dalam produksi pangan antara lain ditujukan untuk (1) mengawetkan makanan, (2) membentuk makanan menjadi lebih baik, renyah dan lebih enak di mulut, (3) memberikan warna dan aroma yang lebih menarik sehingga menambah selera, (4) meningkatkan kualitas pangan dan (5) menghemat biaya.

Resiko BTP

Seperti disebutkan sebelumnya bahwa pembelajaran tentang BTP secara benar sangat diperlukan, baik untuk produsen maupun konsumen. BTP bukan sesuatu yang menakutkan, jika setiap produsen mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Konsumen pun tidak perlu semakin resah dengan banyaknya pemberitaan yang tidak benar tentang BTP.

BTP dapat menimbulkan resiko yang tidak baik bagi kesehatan masyarakat jika produsen (1) menggunakan BTP yang tidak diijinkan, yang dilarang atau BTP yang bukan untuk pangan (non food grade) dan (2) menggunakan BTP dengan dosis/takaran yang tidak tepat, misalnya melebihi dari batas maksimum yang ditetapkan oleh instansi berwenang, dalam hal ini BPOM.

Perlu terus ditekankan kepada produsen bahwa setiap produk yang diperkenalkan kepada konsumen harus disertai informasi yang benar, jelas dan jujur. Sehingga konsumen tidak sampai memiliki gambaran yang keliru atas produk yang mereka konsumsi. Informasi yang benar dan jujur harus dicantumkan secara jelas dalam setiap kemasannya, sehingga konsumen dapat menentukan pilihan makanan yang tepat sebelum membeli dan/atau mengkonsumsinya.

Selain keterlibatan produsen dan konsumen, tentu yang tidak kalah penting juga adalah keterlibatan media. Media harus mampu menyajikan pemberitaan yang seimbang, sehingga konsumen mendapat kejelasan dan produsen pun tidak dirugikan.

Tetapi, semua akhirnya tetap kembali kepada pemerintah. Pemerintah yang berada diantara kepentingan konsumen dan produsen, harus bisa melindungi hak konsumen dan juga memberikan jaminan keamanan bagi produsen yang baik -produsen yang tidak melanggar aturan yang sudah ditetapkan. Sebaliknya pemerintah harus bisa pula melakukan tindakan yang tegas kepada produsen yang melanggar, sesuai dengan peraturan yang telah ditetapkan.

Dengan ini diharapkan setiap orang yang memproduksi pangan dan/atau memasukkan pangan ke dalam wilayah Indonesia untuk diperdagangkan dapat mengikuti aturan yang ada di Indonesia, serta memperoleh perlindungan dan jaminan kepastian hukum.

Selain itu, dengan semakin maraknya berbagai jenis media terutama untuk iklan, produsen dan pengusaha periklanan harus bekerjasama dan membuat iklan yang benar shingga tidak malah menyesatkan masyarakat. Berbagai pihak harus turut memberikan pembelajaran yang baik dan jujur.

Jika sudah terjalin kerjasama yang baik, antara semua pihak, diharapkan industri pangan di Indonesia akan semakin berkembang, konsumen terlindungi dan pendapatan pemerintah pun bisa meningkat.

Rinrin Jamrianti, praktisi industri pangan. Email: rinrin@ipb.ac.id

1 Response so far »

  1. 1

    odith said,

    punyakah data batas maksimum penggunaan btp di indonesia? yang dari sni atau permenkes…
    makasi ya


Comment RSS · TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: